Jenderal Pendiri Universitas Moestopo: Tentara dengan Gelar Terbanyak

Must Read

JAKARTAVIEW.ID, – Siapa tentara yang paling banyak gelarnya di Indonesia? Bisa jadi hingga hari ini, rekor itu masih dipegang oleh Mayor Jenderal (Purn) Moestopo. Menurut pemberitaan yang dilansir oleh sebuah koran terkemuka di Jawa Barat, saat meninggal pada 29 September 1986, Moestopo tercatat setidaknya memiliki 18 gelar.

“Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapal Ilmu Bedah Rahang Indonesia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila,” tulis Pikiran Rakyat, 20 Februari 1986.

Patung Mayor Jenderal (Purn) Moestopo di depan kampus Mustopo

BACA JUGA:

Wajar saja jika sederet gelar itu didapatkan lelaki kelahiran Ngadiluwih, Kediri pada 13 Juni 1913 tersebut. Sejak usia muda, Moestopo sudah banyak aktif di berbagai bidang. Dalam usia 24 tahun, untuk kali pertama dia mendapatkan gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya. Karena kepintarannya, dia lantas diangkat sebagai asisten dari dokter gigi ternama di Surabaya saat itu yakni Prof. Dr. M. Knap.

“Jika dia pergi ke luar negeri, saya selalu disuruh menggantikannya,” ujar Moestopo dalam sebuah buku kecil berjudul Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof.Dr. Moestopo.

Menteri Pertahanan RI ad interim

Jenderal Mustopo Sedang berpidato

Tidak hanya melayani orang-orang kaya saja, Moestopo juga mendermakan keahliahnya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Minggu atau hari libur, Moestopo muda akan berangkat ke Gresik guna melakukan pelayanan umum di Alun-Alun kota Gresik.

Tahun 1943, Moestopo diangkat penguasa militer Jepang sebagai wakil kepala pada Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (Shikadaigaku Ikabu) yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Sjaaf. Saat itulah, Moestopo tertarik menjadi seorang militer. Pada 1944, dia kemudian memasuki Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

“Kawan-kawan se-angkatan Pak Moes di PETA antara lain Pak Gatot Soebroto dan Pak Dirman (Soedirman, Panglima Besar TNI pertama),” ungkap R. Muslich Moestopo, salah satu putra Moestopo.

Dasar seorang dokter, saat pendidikan akhir perwira PETA, Moestopo menulis tema makalah yang sangat menarik. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, eks pimpinan Pertempuran Surabaya itu berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul ‘Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare’.

Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu.

Ketika pecah pertempuran melawan Inggris di Surabaya pada akhir Oktober 1945, sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur dia mendapuk dirinya sendiri sebagai Menteri Pertahanan RI ad interim sekaligus pemimpin revolusi di Jawa Timur.

Soal itu sempat menjadi sebab pertengkaran mulut antara dirinya dengan Wakil Presiden Mochamad Hatta. Untunglah Presiden Sukarno cepat melerai dan ‘membebastugaskan’ Moestopo untuk diangkat sebagai salah satu penasehat militernya.

Tentara Nyentrik

Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949), Moestopo terbilang aktif di berbagai palagan. Namanya dikenal harum di Yogyakarta dan Jawa Barat karena insiatif-nya membentuk Pasukan Terate (Tentara Rahasia Tertinggi) yang diambil dari lingkungan dunia hitam seperti kaum pencoleng, perampok dan pekerja seks komersial.

Menurut almarhum Letnan Jenderal (Purn) Himawan Soetanto yang pernah menjadi anak buahnya, soal itu sempat mengegerkan Markas Besar Tentara (MBT) di Yogayakarta.

“Tapi ya gimana, semua orang tahu Pak Moes itu memang orangnya nyentrik. Jadi ya dimaklumi saja, apalagi saat itu lagi zaman darurat juga kan,” ujar mantan Panglima Kodam Siliwangi tersebut.

Usai pensiun dari tentara, Moestopo lebih banyak menjalankan kehidupannya di dunia pendidikan. Pada 1961, dia kemudian mendirikan Universitas Moestopo Beragama. Embel-embel kata “beragama” itu ternyata memiliki makna tersendiri.

Menurut Muslich, itu ditabalkan sebagai ciri kepribadian Moestopo yang selalu berupaya menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan melaksanakan pola kehidupan kerukunan antar umat beragama.

“Bapak akan marah sekali jika ada mahasiswa-nya yang tidak melaksanakan perintah agamanya,” ujar Muslich.

Saat menjadi rektor, Moestopo pernah mengharamkan mahasiswa didikannya untuk mengonsumsi minuman keras, narkoba, tindakan kriminal, merongrong almamater dan terlibat dalam tindakan subversiv melawan negara. Bahkan secara khusus, Moestopo menyebut praktik-praktik dan perilaku seks yang tidak dia sukai.

“Jangan sekali-kali mahasiswa melakukan onani dan mahasiswi melakukan (praktik) lesbian, yang menyebabkan daya pemikiran dan penangkapan kuliah menjadi lemah,” ujarnya seperti terkutip dalam buku kecil memperingati 100 hari wafatnya.

(Diambil dari berbagai sumber)

LAINNYA:

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest News

Menumpang Roket SpaceX, Korea Selatan Kirim Pengorbit ke Bulan

JAKARTAVIEW.ID, - Korea Selatan pada hari Jumat, 5 Agustus 2022, meluncurkan pengorbit bulan yang pertama menyusul upaya Negeri Gingseng...
- Advertisement -

More Articles Like This