Perebutan Superioritas Udara di Jawa Saat Terjadi Perang Dunia II

Must Read

JAKARTAVIEW.ID, – Ketidakmampuan Rusia menguasai wilayah udara di Ukraina–selain karena kegigihan perlawanan Kiev–disebut-sebut menjadi salah satu sebab kegagalan pasukan Vladimir Putin merebut Kiev. Superioritas udara memang sangat penting dalam peperangan, bahkan hal itu telah disadari saat Perang Dunia II lalu.

Pada awal tahun 1942, bala tentara Jepang menyerang seantero Asia Tenggara ke wilayah jajahan Amerika Serikat di Filipina, jajahan Inggris di Singapura-Malaya-Borneo, dan jajahan Belanda di Hindia Belanda (kini Indonesia). Kawasan yang kaya sumber daya alam tersebut dinamakan Malay Barrier dalam proyeksi pertahanan Sekutu.

Demi menjaga Malay Barrier, garis pertahanan Sekutu America, British, Dutch, Australia (ABDA), dibentuk Komando Udara Jawa (Java Air Command/JAC) yang melibatkan Angkatan Udara Inggris (Royal Air Force/RAF) yang bertugas di bagian barat Pulau Jawa.

Royal Air Force Fighter Command Supermarine Spitfire Mark Vs

Penulis PC Boer dalam buku The Loss of Java menuliskan pertahanan udara Pulau Jawa dalam bulan Februari-Maret 1942 ketika menghadapi serbuan Jepang. Inggris membangun sejumlah pangkalan dengan salah satu pusat komando berada di Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Sejak 12 Februari 1942 direncanakan ditempatkan di barat Pulau Jawa, masing-masing 32 pesawat tempur Sekutu di landasan dan pangkalan udara di Pondok Tjabe (kini Bandar Udara Pondok Cabe), Tjisaoek, Bandoeng (di Andir, kini Lanud Husein Sastranegara, dan Kalidjati, kini Lanud Suryadarma) dan Tasikmalaja. Minimal ditempatkan 16 pesawat tempur di pangkalan-pangkalan tersebut dengan kesiapan scramble (siaga terbang) delapan pesawat tempur setiap hari di empat pangkalan.

Andir, Kalidjati, dan Tasikmalaja menjadi basis operasi utama Sekutu. Terdapat hutan yang dapat menjadi tempat persembunyian di sekitar landasan di Kalidjati dan Tasikmalaja. Sementara di sekitar pangkalan udara Andir terdapat bengkel dan depot pemeliharaan besar milik Dinas Penerbangan Angkatan Darat Hindia Belanda (Militaire Luchvaart, ML).

Adapun di pangkalan Pondok Tjabe direncanakan ditempatkan dua skuadron Hawker Hurricane pada pertengahan Mei 1942. Pesawat yang akan memperkuat pertahanan Pulau Jawa itu sedang diangkut kapal induk Inggris, HMS Indomitable.

Sementara itu, pangkalan udara Tjisaoek direncanakan dialihkan ke US Army Air Force (USAAF) dengan kekuasan dua skuadron P40 Curtiss Warhawk dan Militaire Luchvaart Belanda menempatkan dua skuadron ( afdelingen) tempur di Tasikmalaja. Pada kurun waktu tersebut, danau di Pangalengan dekat Bandung dan di Garut (Situ Bagendit) di Jawa Barat dijadikan tempat beroperasi pesawat amfibi Sekutu.

BACA JUGA:

Perangkat radar dan penentu arah (direction finding) untuk menentukan baringan (bearing) pesawat Sekutu dengan bantuan radio komunikasi disiapkan Inggris. Perangkat tersebut akan diintegrasikan dengan sistem peringatan udara di Komando Pertahanan Udara di Batavia dan Bandung.

Rencana-rencana pertahanan udara tersebut segera disesuaikan dengan perkembangan situasi seiring dengan pesatnya serangan Jepang di Malaya-Singapura-Filipina dan di Kalimantan-Sulawesi.

Pada 14 Februari 1942 (dalam budaya populer Barat diperingati sebagai Hari Valentine), Kota Palembang di Sumatera Selatan diserbu Pasukan Para Jepang. Akibatnya, pesawat-pesawat RAF di Sumatera Bagian Selatan dipindahkan ke Jawa secara tergesa-gesa. Secara keseluruhan, ada 25 pesawat tempur Hawker Hurricane ditempatkan di Jawa di Pondok Tjabe.

Proses evakuasi awak dan peralatan tempur RAF berlangsung pada 14-19 Februari 1942. Mereka berasal dari skuadron tempur 488 (pilot dan awak darat) dan skuadron tempur 232 (dari Singapura) yang membawa 19 unit pesawat tempur baru Hawker Hurricane Mark IIBs.

Para awak skuadron 232 dan skuadron 258 yang dievakuasi dari Palembang ditempatkan di sejumlah hotel dan rumah warga sipil di Kota Batavia. Adapun para awak darat (ground crew) dari skuadron 232, skuadron 242, dan skuadron 605 ditempatkan di sekitar landasan udara di Kemajoran (ketika itu bandara sipil) dan Tjilitan. Secara terpisah, awak darat skuadron 258 yang baru saja tiba di Kota Oosthaven (kini Kota Bandar Lampung) segera mendapat perintah evakuasi karena serangan Jepang di Palembang. Mereka pun segera dievakuasi ke Pulau Jawa ke Kota Batavia.

Kedatangan mereka disertai 12 unit pesawat tempur Hawker Hurricane Mark IIBs yang diangkut kapal laut. Pada 15 Februari 1942, armada pesawat tersebut diserahkan ke pihak ML atas perintah ABDAIR. Pesawat-pesawat tersebut dirakit oleh teknisi ML dan teknisi sipil Koninlijke Nederlands Indische Luchvaart Maatschapij (KNILM) di Batavia. Pesawat-pesawat itu pun segera siap tempur di Bandara Kemajoran.

Adapun pada 17 Februari dan seterusnya, 14 dari 17 pesawat tempur Hawker Hurricane IIBs yang dievakuasi dari Palembang pertama-tama ditempatkan di Kemajoran dan kemudian dipindahkan ke Tjililitan.

Secara keseluruhan, kekuatan Royal Air Force di Batavia ketika itu ada delapan unit Hawker Hurricane baru, dengan satu buah di antaranya sedang diperbaiki di Kemajoran. Kekuatan tersebut ditambah 17 unit Hawker Hurricane yang dievakuasi dari atau melalui Palembang. Dari rombongan pesawat tempur terakhir itu, ada tiga unit yang mengalami kerusakan berat sehingga mesin dan suku cadang harus dikirim dengan kereta api ke Unit Pemeliharan 153 di Jogjakarta. Pada akhir Februari 1942, seluruh pesawat siap beroperasi ( serviceable) di Pangkalan Udara Tjililitan.

Pada saat yang sama, ML mengoperasikan skuadron dari 2 VLG V (Vliegtuiggroep Group V atau Wing Udara 5) dengan kekuatan 10 unit pesawat tempur Brewster Buffalo B339C dan B339D. Kekuatan udara untuk melindungi Kota Batavia dan Kota Buitenzorg (atau Kota Bogor) ketika itu ada 16 pesawat tempur yang disiagakan. Tambahan kekuatan berasal dari pesawat tempur Brewster Buffalo B339E milik RAF yang dievakuasi ke Pulau Jawa.

Kekuatan skuadron-skuadron (afdelingen) ML dibagi dalam Vliegtuiggroep-Aircraft Group (VG) yang masing-masing berada di pangkalan udara. Semisal Ve (Viefde atau Ke-Lima) Vl.G.V di Pangkalan Udara Semplak, Bogor. Sebutan 2-Vl.G.V berarti skuadron 2 Wing Udara 5. Kekuatan skuadron 2 adalah 18 pesawat tempur yang efektif siap beroperasi 16 unit pesawat pada 14 Februari 1942.

Semula di Kota Batavia RAF hanya mengoperasikan tujuh unit Hawker Hurricane di Tjililitan. Pada 16 Februari 1942, skuadron 488 mempunyai lima pesawat tempur yang beroperasi dan keesokan hari mereka mulai terbang beberapa sortie di sektor barat Pulau Jawa. Ketika sedang melakukan terbang percobaan, empat pesawat tempur dan sebuah Hawker Hurricane berusaha untuk mencegat (intercept) pesawat intai Jepang jenis Kawasaki Ki-46 yang terbang sangat tinggi. Mereka gagal mencegat pesawat Jepang tersebut.

Pada 16-17 Februari 1942, militer Inggris membentuk baterai pertahanan udara dari Resimen Anti Serangan Udara (Light Anti Aircraft/LAA) Ringan 48 dari Angkatan Darat Inggris (British Army) yang ditempatkan di Tjililitan. Mereka mengoperasikan delapan pucuk meriam Bofors 40 milimeter. Mereka memperkuat seksi batalyon artileri pertahanan udara (arhanud) KNIL dari Batalyon 1 yang mengoperasikan meriam 20 milimeter.

Prajurit Inggris dan KNIL berpose di sela-sela latihan penggunaan senjata anti pesawat Bofors di sebuah pangkalan angkatan laut di Jawa.

Selain itu, baterai LAA 48 Inggris mengoperasikan 10 pucuk senapan mesin Bren untuk perlindungan udara permukaan dan Detasemen Baterai 242 ditempatkan di Tandjoeng Priok untuk melindungi pangkalan udara milik Angkatan Laut. Detasemen Angkatan Darat Inggris itu mengoperasikan dua pucuk meriam 40 milimeter dan beberapa pucuk senapan mesin Bren.

RAF membentuk skuadron udara kedua di Tjililitan, yakni skuadron 232 dan diikuti pembentukan skuadron 242 pada 22 Februari 1942. Semula mereka ditempatkan di Pangkalan Udara Palembang I di Sumatera Selatan pada 9 Februari 1942.

Sehari kemudian, pada 18 Februari 1942, skuadron 488 sudah siap beroperasi dengan enam dari tujuh pesawat Hawker Hurricane disiapkan. Hari itu, RAF membentuk organisasi pertahanan udara Kota Batavia dengan berintikan dua skuadron pesawat tempur Hawker Hurricane yang terkenal dalam pertempuran udara Battle of Britain tahun 1940.

Komando Pertahanan Udara Batavia diserahkan pihak Belanda kepada RAF sebagai Sektor Kendali Batavia. Segera pusat komando dengan sistem Inggris dibentuk dengan diawaki personel RAF dan beberapa prajurit Angkatan Darat Inggris yang ditambah beberapa penghubung dari ML (Belanda). Ruang plotting diawaki oleh perempuan dari Korps Relawan KNIL.

Komando dipegang oleh Komodor Udara SF Vincent, mantan Komandan Grup Tempur 226 yang dibubarkan pada 18 Februari 1942. Vincent mengendalikan skuadron-skuadron RAF di Tjililitan dengan tugas utama pertahanan udara.

Perwira artileri KNIL, yakni Mayor Soeria Santoso, menjadi Perwira Operasi Vincent dan tetap memimpin organisasi pengintaian udara dan pertahanan udara KNIL. Satuan intai udara dan pertahanan udara tersebut membawahkan artileri pertahanan udara di Tanjung Priok dengan empat pucuk meriam 80 milimeter, sepasang meriam 40 milimeter, empat pucuk meriam 20 milimeter, dan 18 pucuk senapan mesin 12,7 milimeter, dan seksi artileri di Tjililitan, serta seksi tiga pucuk senapan mesin 12,7 milimeter di Kemajoran.

Satuan artileri tersebut diperkuat satuan artileri Inggris, yakni Baterai 242 dari Resimen Ringan Anti Pesawat Udara Ke-48 dan Baterai 239 dari Resimen Senjata Berat Anti Pesawat Udara Ke-77 (ditempatkan di Tjililitan dengan satu detasemen di Tandjoeng Priok) . Selain itu, ada baterai 239 di Tandjoeng Priok dengan delapan pucuk meriam 90 milimeter.

RAF memerlukan persiapan beberapa hari sebelum dapat beroperasi di Tjililitan. KNIL dan ML membantu sebisa mungkin berbagai kebutuhan seperti menyediakan baju baru dan sepatu bagi personel RAF yang dievakuasi dari Sumatera Selatan. Bahan bakar dengan oktan 100 disiapkan bagi operasionalisasi pesawat-pesawat RAF (pesawat-pesawat ML di Hindia Belanda hanya memerlukan bahan bakar dengan oktan 91) hingga oksigen untuk pesawat Hawker Hurricane juga disiapkan. ML juga memasok parasut, oli hidrolis, dan lain-lain.

Pada era Indonesia modern, satuan artileri di Jakarta masih terdapat di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok, Tebet, dan di selatan Jakarta. Di sebelah barat terdapat satuan artileri di Cikupa, Provinsi Banten.

Adapun landasan udara di Kemayoran telah menjadi kompleks perumahan, Tjililitan menjadi Lanud Halim Perdanakusuma, Pondok Tjabe menjadi Bandara Pondok Cabe. Pangkalan Semplak menjadi Pangkalan Udara Atang Sendjaja, di wilayah barat terdapat Lanud Boediarto yang menjadi pusat pendidikan penerbang Curug.

Dalam buku The Loss of Java karya PC Boer disebutkan pangkalan udara utama di sebelah barat Jawa ialah Andir, Tjililitan, Kalidjati, dan Semplak. Selain itu, terdapat pangkalan udara serta landasan udara lainnya seperti di Salatri dan Pameungpeuk di pantai selatan Jawa Barat, Serang, Tangerang, Tjisaoek, Pondok Tjabe, Tandjoeng Oost (Tanjung Timur), Bekasi, Tjileungsir (Cileungsi), Tjikampek (Cikampek), Boeabatoe (Buah Batu), lalu di dekat Sukabumi di Tjikembar serta pangkalan udara di Tasikmalaja dan Bandjar (Banjar).

Perang udara

Dalam waktu singkat, menjelang akhir Februari 1942, RAF terlibat dalam pertempuran udara dan operasi pengeboman terhadap kedudukan Jepang. Selain pesawat tempur, RAF bersama RAAF mengoperasikan bomber Bristol Blenheim dan Hudson dari pangkalan udara di Kalidjati dan Andir, Bandung. Sementara pesawat amfibi Sekutu dari barat Pulau Jawa beroperasi melakukan pengintaian dan juga memasang ranjau laut di sekitar muara Sungai Musi untuk menghancurkan kapal-kapal Angkatan Laut Jepang yang menyerbu Kota Palembang.

Formasi pesawat tempur Nakajima Ki-43 yang dioperasikan tentara Jepang di Jawa pada Perang Dunia II. REPRO THE LOSS OF JAVA

Ketika itu, Jepang sudah menguasai Sumatera Bagian Selatan. Misi pengeboman menyasar Pangkalan Udara Palembang Satu (P1) di dekat Kota Palembang dan Pangkalan Udara Rahasia Palembang 2 (P2) dekat Kota Prabumulih (kini menjadi markas Batalyon Kavaleri TNI AD).

Pesawat-pesawat Angkatan Darat Jepang dari Hiko Shudan 3 (Divisi Udara 3) sejak 15 Februari 1942 mulai berdatangan ke Palembang 1. Pesawat tempur Nakajima Ki-27 mulai beroperasi dari sana. Selanjutnya pada 17 Februari 1942, pesawat-pesawat Jepang dalam jumlah besar datang dari Semenanjung Malaya.

Pesawat tempur Jepang jenis Nakajima Ki-27 secara umum memiliki jangkauan jelajah (cruising range) 850 kilometer sehingga sulit untuk beroperasi menyerang Pulau Jawa. Pesawat tempur Jepang semakin aktif beroperasi di udara Pulau Jawa ketika mereka menguasai pangkalan udara di Oost Haven (kini Bandar Lampung) sehingga memperpendek jarak jangkauan terbang ke Batavia dan bagian barat Pulau Jawa.

Selanjutnya pada 24 Februari 1942, 20 unit pesawat tempur Nakajika Ki-27 dipindahkan ke Tanjung Karang di Oost Haven sehingga mendekati Pulau Jawa. Sebelumnya pada 17-18 Februari 1942, sebagian besar kekuatan udara Angkatan Darat Jepang tiba di Palembang dari Hiko Dan 3 dan Hiko Dan 12. Ada 43 pesawat pemburu jarak jauh Nakajima Ki-43.

Kekuatan udara Jepang bertambah dengan armada udara Angkatan Laut Jepang yang didatangkan dari Kuching di Sarawak ke Muntok di Bangka pada 23 Februari 1942. Mereka berasal dari Yamada Kokutai dengan kekuatan 15 pesawat tempur Mitsubishi A6M Navy O atau Zero dan tiga pesawat intai Mitsubishi C5M.

Secara keseluruhan, ada 57 pesawat tempur Jepang yang disiapkan untuk operasi di bagian barat Pulau Jawa. Sementara pihak Sekutu memiliki 50 pesawat tempur, termasuk pesawat-pesawat tempur Hawker Hurrican IIB dari RAF.

Serangan pertama Jepang terjadi di Semplak di dekat Kota Bogor dan Andir, Bandung, tanggal 19 Februari 1942. Serangan itu dihadapi para pilot Belanda dari Militaire Luchvaart Dienst dengan pesawat pemburu Brewster Buffalo. Ketika itu, ada 19 pesawat tempur Hawker Hurricane dari skuadron 232 dan skuadron 488 yang dalam keadaan beroperasi.

Kemenangan pertama RAF di barat Pulau Jawa dalam pertempuran udara (dogfight) dibukukan tanggal 20 Februari 1942 tidak lama selepas fajar menyingsing di udara Teluk Banten. Kala itu, enam Hawker Hurricane dari skuadron 232 yang berpangkalan di Tjililitan mencegat serombongan pesawat tempur Jepang yang mereka kira jenis Nakajima Ki-27. Namun, diduga pesawat-pesawat Jepang tersebut adalah tiga pesawat Mitsubishi Ki-15 yang melakukan pengintaian memantau jalan raya jurusan Batavia dan Buitenzorg dari arah Banten.

Mereka menembak jatuh dua pesawat Jepang. Salah satu pesawat Jepang ditemukan reruntuhannya di pinggiran Kota Serang, Banten.

Pada 19, 20, dan 21 Februari 1942, KNIL dan polisi menjejak pesawat-pesawat yang jatuh di barat Pulau Jawa. Mereka menemukan empat bangkai pesawat tempur Brewster Buffalo yang dioperasikan MLD (sayap udara KNIL), sebuah pesawat intai Jepang, dan satu bomber Hudson yang dioperasikan RAAF yang jatuh 15 kilometer barat daya Buitenzorg (kini Kota Bogor).

Pihak Belanda di sektor Pertahanan Bandung juga mendapat laporan pesawat tempur Jepang jatuh ke laut di Kepulauan Seribu dan ada dua bangkai pesawat Jepang yang ditembak jatuh artileri pertahanan udara di dekat Pangkalan Udara Kalidjati di Subang. Mereka juga menemukan tiga bangkai pesawat tempur Brewster Buffalo dan satu bomber B-17 milik Amerika Serikat yang didatangkan dari India untuk memperkuat pertahanan Pulau Jawa. Bomber B-17 tersebut sedang transit di Andir ketika Jepang menyerang.

Pada pengintaian Jepang di Pelabuhan Tanjung Priok tanggal 20 Februari 1942, yang dihadang para pilot RAF, pihak Jepang berhasil mendapatkan data ada lima kapal penjelajah (cruiser), 8 kapal perusak (destroyer), lebih dari 50 kapal dagang, 10 pesawat amfibi, dan tiga pesawat amfibi pengintai.

Pihak Sekutu pada hari yang sama mempersiapkan pesawat-pesawat Hawker Hurricane untuk dioperasikan di Kalidjati. Pasokan bahan bakar dengan oktan 100 hingga mencabut saringan pasir (pesawat-pesawat tersebut semula direncanakan ditempatkan di Afrika Utara dengan medan padang pasir). Mencabut saringan udara dapat menambah kecepatan Hawker Hurricane hingga 30 kilometer per jam.

Rangkaian pertempuran udara yang melibatkan para pilot RAF di Jawa terjadi hingga bala tentara Jepang mendarat di Jawa pada 1 Maret 1942.

Sebelumnya, pada 27 Februari 1942, 2.500 pasukan Sekutu termasuk para personel RAF sebagian besar diungsikan dari Jawa menuju Sri Lanka dengan kapal Belanda, Kota Gede dari Tandjoeng Priok. Mereka berjejalan di atas kapal tersebut. Sebagian personel lain ada yang meloloskan diri lewat selatan Jawa, terutama Pelabuhan Cilacap, menuju Australia.

Pesawat Hawker Hurricane milik pasukan Inggris yang ditemukan tentara Jepang di kawasan Kemayoran, Jakarta, saat Perang Dunia II. REPRO BUKU THE LOSS OF JAVA

Dalam kurun waktu tanggal 21 Februari-1 Maret 1942, serangkaian pertempuran udara, di antaranya pada 21 Februari di sekitar Andir dan Kalidjati yang melibatkan para penerbang Belanda. Hari itu para pilot RAF tidak beroperasi di Tjililitan karena cuaca buruk di Batavia. Skuadron 232 menyiagakan delapan pesawat tempur dan skuadron 488 menyiapkan lima pesawa tempur Hawker Hurricane. Dibentuk skuadron baru, yakni skuadron 605, yang akan mengambil alih tugas skuadron 488 yang akan dievakuasi dari Pulau Jawa.

Pada 22 Februari 1942, sepasang Hawker Hurricane RAF melakukan scramble setelah mendapat informasi adanya iringan kapal selam Jepang. Turut memburu kapal selam Jepang, tiga bomber Blenheim yang dioperasikan RAF dan RAAF dari Pangkalan Udara Kalidjati. Mereka memburu kapal selam hingga perairan di St Nicolaa Punt (barat laut Teluk Banten).

Hari itu, skuadron 605 RAF beroperasi dengan pembagian dua Flight A dan B. Flight A diawaki penerbang Selandia Baru mantan anggota skuadron 488 dan Flight B diawaki penerbang dari skuadron 258.

Sehari kemudian, pada 22 Februari 1942, para penerbang skuadron 605 melakukan patroli dan terbang penyesuaian pada pagi hari. Menjelang tengah hari, pukul 11.30 dan pukul 11.50, pesawat tempur Ki-43 dan bomber Ki-48 Jepang menyerbu landasan udara di Kemayoran dari arah timur barat, mengakibatkan kerusakan landasan, hanggar, dan fasilitas bandara. Demikian pula di Semplak, enam bomber Ki-48 dan 14 pesawat tempur Ki-43 menyerbu selama dua puluh menit. Mereka menghancurkan enam bomber Hudson dan pesawat angkut Lokcheed Lodestar. Selain itu, ada tiga Hudson rusak berat dan sebuah pesawat angkut Fokker milik KNILM (anak perusahaan KLM) rusak berat.

Para pilot RAF diterbangkan untuk mencegat pesawat-pesawt Jepang yang kembali dari Semplak ke Palembang melalui Banten. Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Selain itu, RAF terlibat dalam pengawasan konvoi kapal Sekutu yang mengevakuasi pasukan dan warga sipil dari Jawa ke Selat Sunda menuju Sri Lanka dan Australia. Operasi pengawalan tersebut dinilai berhasil.

RAF juga mengoperasikan depot logistik di Pelabuhan Tjilatjap untuk mengirimkan suku cadang dan berbagai keperluan operasionalisasi penerbangan di Batavia dengan menggunakan angkutan kereta api ataupun truk.

Pada 23 Februari 1942 tidak banyak serangan udara Jepang karena pesawat tempur Jepang bertugas melindungi iringan logistik untuk perbaikan instalasi minyak dan Pangkalan Udara Palembang 1. Meski demikian, para pilot RAF sempat menghadapi beberapa pesawat Jepang di angkasa Teluk Jakarta. Pesawat Hawker Hurricane yang dipiloti Sersan TW Young menembak jatuh sebuah pesawat intai amfibi Jepang yang kemudian tenggelam ke laut.

Pada 24 Februari 1942 tercatat ada 14 Hawker Hurricane yang dioperasikan skuadron 242 dan skuadron 605. Adapun pihak Belanda Wing 2 skuadron IV mengoperasikan sembilan Hawker Hurricane. Secara keseluruhan, pihak Sekutu menyiagakan 33 pesawat tempur di Jawa bagian barat.

Hari itu Jepang menyerang Pangkalan Udara Kalidjati dan Andir. Pertempuran udara terjadi di sekitar Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Burangrang. Para pilot Jepang melaporkan terlibat dogfight dengan tujuh pesawat tempur Hawker Hurricane dan dua P-43. Adapun pesawat tempur Hawker Hurricane di Kalidjati hari itu masih disiapkan karena menunggu pasokan kristal yang digunakan untuk radio komunikasi.

Sebanyak 14 Hawker Hurricane RAF dari Tjililitan mencegat bomber dan pemburu Jepang yang menyerang Kalidjati. Tercatat sebuah bomber Jepang Ki-48 ditembak jatuh pilot RAF.

Pembom Bristol Blenheim yang dioperasikan Inggris pada Perang Dunia II. Selain pesawat tempur, RAF bersama RAAF mengoperasikan bomber Bristol Blenheim dan Hudson dari pangkalan udara di Kalidjati dan Andir, Bandung. REPRO BRITTISH AIRCRAFT OF WORLD WAR II

Dalam pertempuran udara lanjutan, dua Hawker Hurrican ditembak jatuh pesawat pemburu Jepang. Pihak RAF mencatat tiga probable (kemungkinan ditembak jatuh) pesawat tempur Mitsubishi A6M Zero dan sebuah Ki-43. Adapun para prajurit Angkatan Darat Inggris yang mengawaki artileri pertahanan udara menembak jatuh 1 Ki-48 dan menembak dua Ki-48, tetapi berhasil kembali ke pangkalan di Sumatera Selatan.

Setelah menyerang Kalidjati, empat bomber dan 13 pesawat pemburu Jepang yang kembali ke jurusan Sumatera menyerang Pelabuhan Tandjoeng Priok. Artileri pertahanan udara Inggris dan KNIL menembaki mereka, tetapi tidak berhasil menembak jatuh pesawat-pesawat Jepang.

Menjelang sore, kembali pesawat-pesawat Jepang menyerbut Tandjoeng Priok. Para pilot RAF menerbangkan tujuh Hawker Hurricane menyongsong armada udara Jepang. Pertempuran udara pecah.

Pertempuran demi pertempuran terjadi, kemungkinan bala bantuan didatangkan ke Jawa semakin kecil. Semula direncanakan bantuan lebih dari 100 pesawat tempur, yakni 59 unit P-40 dari Amerika Serikat yang diangkut kapal induk USS Langley dan kapal Sea Witch dan 48 unit Hawker Hurricane yang diangkut kapal induk HMS Indomitable, didatangkan ke Jawa.

Hanya 27 unit pesawat yang diangkut Sea Witch yang sampai dengan selamat di Pelabuhan Tjilatjap. Itu pun pesawat P-40 tersebut masih berada dalam peti dan harus dirakit di dermaga yang juga dijadikan landasan udara darurat.

Pada 1 Maret 1942, dalam keadaan kekuatan Sekutu terdesak, para pilot RAF dengan gagah berani masih beroperasi menyongsong pendaratan tentara Jepang di Pantai Eretan dekat Indramayu. Barisan tentara Jepang di dataran persawahan pantai utara Jepang menjadi mangsa empuk straffing (tembakan udara ke darat) yang dilakukan para pilot RAF dengan pesawat Hawker Hurricane.

Akibat serbuan udara RAF, pasukan Jepang dihambat pergerakannya. Hanya bisa maju sejauh 40 kilometer hari itu. Meski demikian, sejarah mencatat, selain pertempuran Brigade Black Force (pasukan gabungan Australia-Inggris-Amerika Serikat) di perbatasan Leuwiliang-Bogor, Sekutu dihantam telak oleh Jepang.

Pemerintah militer Hindia Belanda pun menyerah kepada Jepang di Kalidjati yang secara resmi diumumkan pada 9 Maret 1942. Para personel Royal Air Force yang tertinggal di Jawa menjadi tawanan perang Jepang. Sebagian dari mereka ditawan di kamp tawanan Batalyon X KNIL di lokasi yang kini menjadi Hotel Borobudur di dekat Lapangan Banteng.

Operasionalisasi RAF di Pulau Jawa menjadi pelajaran berharga pentingnya membangun kekuatan udara yang terpadu dengan kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Darat.

LAINNYA:

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest News

Menumpang Roket SpaceX, Korea Selatan Kirim Pengorbit ke Bulan

JAKARTAVIEW.ID, - Korea Selatan pada hari Jumat, 5 Agustus 2022, meluncurkan pengorbit bulan yang pertama menyusul upaya Negeri Gingseng...
- Advertisement -

More Articles Like This