Sikapi Kekuatan China di Natuna Utara, Indonesia Berpacu dengan Waktu Modernisasi Alutsista

Must Read

JAKARTAVIEW.ID, – China walau saat ini sedang panas dengan Taiwan tapi tak melupakan klaimnya di Natuna Utara Indonesia.

Indonesia harus menunjukkan gairah yang nyata kepada China bahwasanya mereka akan mati-matian melindungi Natuna Utara.

Gairah ini bisa didapat Indonesia memperkuat kedudukan Natuna Utara, melengkapinya dengan alutsista mumpuni untuk menghadang China.

Indonesia membutuhkan alutsista yang tepat guna di Natuna Utara.

Mungkin harus condong ke alutsista matra udara dan laut.

Sebab kedua unsur itulah yang bisa melakukan peran ofensif untuk defensif apabila ada kapal China masuk ke Natuna Utara.

Indonesia sadar akan hal itu maka menempatkan F-16 di Natuna.

Penempatan jet tempur di Natuna memang paling cocok saat ini.

Dengan adanya F-16 maka kapal perang Indonesia mendapat dukungan udara.

Dukungan udara penting karena dengan pesawat pengawasan wilayah Natuna Utara lebih efektif.

BACA JUGA:

Selain jet tempur, Indonesia juga menyiapkan setidaknya satu unit pesawat intai maritim di Natuna.

Tujuannya untuk mendeteksi lebih tajam keberadaan kapal-kapal apa saja yang ada di Natuna Utara.

Peran pesawat intai maritim ini sangat berguna.

Selain mendeteksi keberadaan kapal di Natuna Utara, pesawat ini juga bisa melakukan patroli jarak jauh.

Kemudian unsur kapal perang tak lupa dilengkapi Indonesia.

Kapal perang menjadi unsur pemukul utama Indonesia di Natuna Utara.

Felix K. Chang dari Uniformed Services University kepada fpri.org pada 14 April 2022 menjelaskan bahwa Indonesia tengah mengembangkan kekuatan angkatan lautnya di dua tempat.

Yakni di Natuna da Pontianak.

“Pada tahun 2014 Jakarta memperluas pangkalan angkatan laut Pontianak di Kalimantan,” jelasnya.

Felix menyoroti bila Indonesia juga mempersiapkan kapal selam di Natuna.

Peran kapal selam akan sangat strategis untuk membendung China di sana.

“Kemudian pada tahun 2021, setelah persiapan yang panjang, Jakarta membangun pangkalan baru di Pulau Natuna untuk tiga kapal selam serang diesel-listrik yang direncanakannya,” bebernya.

Indonesia memang harus bersikap demikian.

Sebab Komando Teater Selatan China mempunyai alutsista bukan kaleng-kaleng.

Dikutip dari defenceview.in, di Komando Teater Selatan, China menempatkan destroyer Type 055.

Disinyalir kemampuan Type 055 melebihi Arleigh Burke class US Navy.

“Type 055 dinilai lebih unggul dari kapal perusak Amerika Arleigh Burke dan kapal penjelajah Ticonderoga, serta kelas Slava Rusia,” jelasnya.

Naval News juga mengakui hal itu.

Type 055 secara dimensi lebih besar dari Arleigh Burke.

Menjadikannya kapal perusak terbesar yang ada di dunia saat ini.

“Kapal perusak Tipe 055 adalah kombatan permukaan terbesar yang saat ini sedang dibangun di dunia dengan panjang 180 meter, lebar 20 meter dan draft 6,6 meter untuk perpindahan beban penuh sekitar 13.000t (dibandingkan dengan kapal penjelajah kelas Ticonderoga Angkatan Laut AS dan kapal perusak kelas Flight III Arleigh Burke baik pada 9.800 ton atau Royal Navy Type 45 sekitar 8.500 ton),” ungkapnya.

Untuk persenjataan, Type 055 jelas bukan tandingan kapal perang Indonesia.

Type 055 menggunakan meriam utama 130 mm H/PJ-38.

Lantas ada 112 silo VLS dan H PJ-11 CIWS.

Dilengkapi dengan rudal jarak pendek HQ-10, peluncur decoy hingga torpedo.

Type 055 sangat mampu memberikan ancaman maksimal kepada Indonesia bila dikerahkan ke Natuna Utara.

Untuk itulah Indonesia membutuhkan bantuan dari negara lain.

Amerika Serikat (AS) menjadi rujukan Indonesia agar membantunya di Natuna Utara.

Selain AS, Jepang juga berniat membantu Indonesia menghadapi China.

“Para menteri pertahanan Jepang dan Indonesia pada hari Minggu sepakat untuk mengirim pesan kepada seluruh dunia bahwa kedua negara akan sangat menentang setiap tindakan oleh China yang dapat meningkatkan ketegangan di perairan regional.

Menteri Pertahanan Nobuo Kishi juga mengatakan kepada wartawan setelah mengadakan pembicaraan dengan mitranya dari Indonesia Prabowo Subianto di Tokyo bahwa mereka akan mendesak China untuk menahan diri dari mencoba mengubah status quo secara sepihak di laut China Selatan dan Timur,” dikutip dari Kyodo News pada 28 Maret 2021.

Sementara AS akan membantu Indonesia mempertahankan Natuna Utara.

“Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengunjungi Jakarta pada bulan Desember dan menyatakan dukungan untuk ‘kepemimpinan Indonesia di Indo-Pasifik, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan pendukung kuat tatanan internasional berbasis aturan,” jelas Kyodo.

Untuk mencapai semua itu, Indonesia harus memodernisasi alutsistanya.

Andrew Mantong, peneliti di Pusat Studi Strategis dan Internasional Indonesia (CSIS) menjelaskan modernisasi alutsista Indonesia merupakan mutlak.

Walau anggaran pertahanan Indonesia cekak, negeri ini ahrus mempunyai ambisi besar memperkuat militernya.

“Menyeimbangkan pengaruh China yang berkembang,” ujarnya dikutip dari Asia One pada 25 Februari 2021.

Indonesia tak bisa berlama-lama lagi soal modernisasi ini.

Indonesia berpacu dengan waktu karena pengaruh China bisa semakin besar di Natuna Utara.

“Tetapi mengingat situasi di Indo-Pasifik menjadi semakin tidak pasti dan tidak stabil, ada kebutuhan mendesak untuk memodernisasi peralatan kami.

Kami memiliki tugas yang sulit untuk meningkatkan kemampuan pencegahan atau anti-akses kami. Menyeimbangkan kekuatan China,” jelasnya.

Indonesia sudah bersiap di Natuna Utara untuk melawan agresi maritim China.

Sumber: Asia One Kyodo News Naval News defenceview.in

LAINNYA:

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest News

Menumpang Roket SpaceX, Korea Selatan Kirim Pengorbit ke Bulan

JAKARTAVIEW.ID, - Korea Selatan pada hari Jumat, 5 Agustus 2022, meluncurkan pengorbit bulan yang pertama menyusul upaya Negeri Gingseng...
- Advertisement -

More Articles Like This